Oleh: Moh. Ikhsan Kurnia.
Di rak minimarket, produk itu hampir selalu ada: Tao Kae Noi, camilan rumput laut dalam kemasan cerah, dengan maskot kartun tersenyum lebar. Bagi sebagian besar konsumen, ini hanyalah makanan ringan—pengusir lapar, pengganjal sore. Namun bagi sebagian lainnya yang mengenal lebih dalam, ada satu hal yang lebih gurih daripada rasanya: kisah di baliknya.
Adalah Itthipat Peeradechapan, atau akrab disapa Tob, otak kreatif sekaligus tangan dingin di balik merek yang kini menjadi raksasa industri makanan ringan Asia. Tob bukan pengusaha dalam arti klasik—bukan pewaris kekayaan, bukan pula jebolan universitas bisnis kenamaan. Ia adalah figur otodidak yang membuktikan bahwa resilience, kejelian membaca pasar, dan keberanian mengambil risiko, bisa mengalahkan segala keterbatasan struktural.
Kisah Tob tidak dibangun dalam ruang rapat berkarpet tebal atau di antara presentasi PowerPoint yang dirancang konsultan strategi. Ia memulai perjalanannya dari dapur kecil, dengan eksperimen sederhana dan rasa ingin tahu yang besar. Produk rumput laut goreng yang kemudian mendunia itu, pada mulanya hanyalah hasil coba-coba dari bahan yang murah dan mudah ditemukan di pasar Thailand. Namun di tangan Tob, rumput laut berubah menjadi commodity innovation — bukan sekadar makanan, tapi produk dengan nilai budaya dan daya tarik lintas negara.
Yang menarik dari kisah Tob bukan hanya keberhasilannya, tapi cara berpikirnya. Ia tidak datang dari lingkungan yang akrab dengan istilah startup, scalability, atau angel investor. Tapi justru dari keterbatasan itulah muncul kekuatan—ia berani mencoba, berani gagal, dan berani bertahan. Dalam literatur kewirausahaan modern, karakter seperti ini dikenal sebagai bentuk paling tulus dari grit: gabungan antara semangat jangka panjang dan ketekunan menghadapi hambatan.
Saat ide tentang camilan rumput laut muncul, Tob tidak langsung berfokus pada skala besar. Ia tidak berpikir tentang ekspor atau dominasi pasar. Yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana membuat satu produk yang enak, punya tekstur yang pas, tahan lama, dan bisa diterima lidah lokal. Ia mengutak-atik suhu penggorengan, mencoba berbagai jenis bumbu, hingga mencari kemasan yang menarik namun efisien. Semua dilakukan dengan semangat trial and adjustment.
Namun tantangan sesungguhnya muncul ketika produknya mulai menarik minat jaringan ritel besar. Masuk ke rak 7-Eleven bukan perkara mudah. Ada standar kualitas, sistem pasokan yang harus konsisten, dan tentu saja kemampuan untuk memproduksi dalam jumlah besar. Di titik inilah banyak bisnis kecil tumbang—karena tidak siap untuk naik kelas secara struktural. Tapi Tob tidak mundur. Ia membangun sistem produksi sendiri, merekrut tim kecil, dan menyusun logistik distribusi. Dalam bahasa bisnis modern, ia menjalani proses scaling-up dengan kecepatan dan efisiensi yang jarang dimiliki oleh pemain baru.
Hasilnya? Hanya dalam hitungan tahun, Tao Kae Noi menjelma menjadi salah satu merek makanan ringan paling dikenal di Thailand. Tapi Tob tidak berhenti di situ. Ia memperluas jaringan hingga ke luar negeri—dimulai dari negara-negara dengan kedekatan selera seperti Jepang, Korea, dan Taiwan, hingga ke pasar yang lebih menantang seperti Amerika Serikat dan Inggris. Saat ini, Tao Kae Noi telah hadir di lebih dari 40 negara.
Keberhasilan ekspor ini bukan hanya soal keberuntungan. Ada kerja cerdas di baliknya. Tob memahami pentingnya localization, yakni bagaimana produk yang sama bisa dikustomisasi untuk memenuhi selera lokal. Ia juga memanfaatkan pop culture Asia seperti K-pop dan drama Korea sebagai kendaraan promosi yang efektif. Bahkan dalam beberapa kampanye, Tob secara eksplisit menyasar generasi muda urban sebagai primary consumer segment, dengan gaya komunikasi visual yang segar dan kekinian.
Dalam perjalanan bisnisnya, Tob tidak pernah menjual mimpi berlebihan. Ia tidak tampil sebagai motivator, tidak pula mengklaim dirinya sebagai ikon sukses. Justru dalam banyak wawancara, ia terlihat canggung, kalem, dan menghindari pujian. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia adalah representasi quiet entrepreneurship — model pengusaha yang tidak bising, tapi bekerja konsisten dan berdampak luas.
Satu hal lagi yang membuat Tob layak menjadi referensi: ia memanusiakan kegagalan. Bagi Tob, kegagalan adalah bagian dari proses, bukan musuh yang harus dihindari. Ketika eksperimen pertama gagal, ketika produksi tidak berjalan mulus, atau ketika permintaan pasar tiba-tiba menurun, ia tidak menyerah. Ia mengevaluasi, belajar, dan mencoba ulang. Filosofi ini sejalan dengan konsep fail-forward dalam teori organisasi pembelajar: setiap kesalahan adalah batu loncatan, bukan batu sandungan.
Indonesia, dengan kekayaan ide kreatif dan jumlah pengusaha muda yang terus bertambah, seharusnya bisa belajar banyak dari cara kerja Tob. Kita punya banyak “bibit Tob”, tetapi sering kali mereka tidak diberi ruang untuk mencoba, apalagi gagal. Lingkungan sosial kita masih terlalu menghargai “hasil” ketimbang “proses”. Gagal seringkali distigma, bukan dimaknai sebagai fase belajar.
Jika kita ingin melahirkan lebih banyak wirausahawan tangguh, sistem pendidikan kita perlu berubah dari hanya mengajarkan how to avoid risk menjadi how to take smart risks. Kita perlu memperkenalkan narasi-narasi alternatif seperti kisah Tob ke ruang-ruang kelas, ke seminar bisnis, dan ke forum pemuda. Bukan untuk mengultuskan individu, tetapi untuk menanamkan logika bahwa bisnis bisa dimulai dari hal kecil, dari dapur, dari tangan sendiri, dan dari keberanian untuk mencoba.
Dan lebih penting lagi, kita perlu menciptakan ekosistem yang menoleransi kegagalan sebagai bagian dari inovasi. Bank, lembaga pendanaan, bahkan platform digital perlu lebih ramah pada bisnis yang sedang belajar tumbuh. Pemerintah dan institusi swasta bisa berperan aktif dalam menyediakan buffer—entah dalam bentuk pembinaan, insentif, atau ruang eksplorasi—agar para “Tob lokal” tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam konteks ini, kisah Tob bukan hanya tentang rumput laut. Ia adalah metafora tentang possibility. Bahwa dari sesuatu yang tampak biasa, bisa lahir sesuatu yang luar biasa. Bahwa dalam dunia bisnis yang sering kali penuh suara-suara besar, ada juga ruang bagi mereka yang bekerja diam-diam tapi pasti. Bahwa dalam satu genggam camilan, ada filosofi ketekunan, ketelitian, dan keberanian yang patut dikunyah lebih dalam.
Dan ketika Anda kembali mengambil sebungkus Tao Kae Noi di rak minimarket, mungkin kisah ini bisa ikut dikunyah bersama kerenyahannya. Karena siapa tahu, the next big thing yang akan lahir dari Indonesia—juga berasal dari dapur kecil, ide sederhana, dan seorang muda yang gigih mencoba.
*Penulis adalah Dosen Kewirausahaan Universitas BTH & Direktur Kemitraan Perkumpulan Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI); Pemerhati Kewirausahaan Asia Tenggara.





